...
Abdurrahman Bin Auf, Sahabat Nabi Yang Paling Kaya Dan Dermawan. Tapi Mengapa Hisabnya Paling Lama?

Setiap harta memiliki tanggung jawab besar. Bagi sebagian orang, kekayaan bisa menjadi jalan menuju kesombongan, namun bagi sebagian lain, kekayaan justru menjadi ladang amal. Salah satu teladan terbesar dalam hal ini adalah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi SAW yang dikenal sebagai pengusaha sukses dan dermawan luar biasa.

  1. Kaya Tapi Tetap Zuhud

Abdurrahman bin Auf adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (al-‘Asyrah al-Mubasysyirūn bil Jannah). Rasulullah SAW bersabda:

عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّ

“Abdurrahman bin Auf berada di surga.” (HR. Tirmidzi)

 

Meski memiliki jaminan surga, beliau tetap sangat berhati-hati terhadap hartanya. Sebab Rasulullah, mengingatkan bahwa orang kaya akan dihisab lebih lama di akhirat:

إِنَّ الْفُقَرَاءَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الْأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَذَاكَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ

“Sesungguhnya orang-orang miskin akan masuk surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun.” (HR. Tirmidzi)

 

Hadis ini menggambarkan bahwa semakin besar harta, semakin berat pula pertanggungjawaban di hadapan Allah.

 

  1.  Awal Mula Kesuksesan Abdurrahman bin Auf

Ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, beliau mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa‘ad bin Rabi‘ al-Anshari, seorang sahabat kaya dari Madinah. Sa‘ad menawarkan separuh hartanya, namun Abdurrahman dengan rendah hati menolak dan berkata:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، دُلَّنِي عَلَى السُّوقِ

“Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar.”(HR. Bukhari)

 

Dari situlah, Abdurrahman memulai usaha dari nol. Dengan kejujuran dan ketekunan, Allah memberkahinya hingga menjadi salah satu sahabat terkaya di Madinah.

 

  1.  Kekayaan yang Penuh Keberkahan

Kekayaan Abdurrahman bin Auf bukanlah hasil keberuntungan semata, melainkan buah dari kejujuran, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus. Beliau dikenal sebagai sahabat yang berdagang dengan penuh integritas dan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah usahanya.

 

Doa dan usaha itulah yang menjadi rahasia kesuksesan Abdurrahman bin Auf. Ia tidak hanya mencari keuntungan dunia, tapi juga mencari ridha Allah dalam setiap perniagaannya. Kekayaannya menjadi sarana untuk berbagi, bukan sekadar untuk menimbun harta.

 

  1. Kedermawanan yang Tiada Tanding

Ketika perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menyumbangkan setengah dari seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Ia menyedekahkan 500 ekor kuda dan 1500 unta untuk jihad fi sabilillah. Beliau juga dikenal tidak pernah menolak permintaan orang yang membutuhkan, dan sering memberi makanan kepada banyak orang setiap hari.

 

  1.  Kekayaan Bukan untuk Ditumpuk, tapi Dibagi

Rasulullah bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)

 

Hadis ini menjadi prinsip hidup Abdurrahman bin Auf. Ia yakin bahwa setiap harta yang disedekahkan justru membuka pintu rezeki baru. Dan benar semakin beliau bersedekah, semakin Allah menambah keberkahannya. Ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ

“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)

 

  1.  Pelajaran dari Abdurrahman bin Auf

Kekayaan sejati bukan diukur dari banyaknya harta, tapi dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama. Rasulullah bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ ... وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat hal ... dan tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)

 

Abdurrahman bin Auf merupakan seorang teladan, bahwa menjadi kaya bisa menjadi jalan menuju surga bila kekayaan itu digunakan di jalan Allah. Ia menunjukkan bahwa harta yang diberkahi bukanlah yang menumpuk di tangan, tapi yang mengalir dalam kebaikan.

Maka, bila ingin rezeki yang berkah dan ringan hisabnya, perbanyaklah sedekah dan wakaf. Karena dari tangan yang memberi, Allah akan membuka pintu keberkahan tanpa batas, sebagaimana sabda Nabi:

يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Tangan Allah penuh, tidak berkurang karena memberi, terus-menerus memberi siang dan malam.” (HR. Muslim)