...
Meneladani Kesederhanaan Rasulullah SAW

WAKAF MANDIRI - Rasulullah SAW adalah seorang pemimpin umat, seorang khalifah, manusia terbaik, ash shadiqul mashduq (orang yang benar dan dibenarkan oleh Allah). Namun apakah kehidupan Beliau bergelimang harta dan kemewahan? Ternyata tidak. Malah sebaliknya, kehidupan Beliau sangat sederhana dan bersahaja.

Berikut sebagian kecil kesederhanaan kehidupan Nabi SAW,  

  1. Gelas pecah ditambal oleh Nabi.

Anas bin Malik radhiallahu’anhu mengatakan, “Gelas Nabi SAW pecah. Kemudian beliau menambal bagian pangkal gagangnya dengan perak.” (HR. Bukhari).

Sebagian kita mungkin memiliki gelas-gelas yang cantik dan menarik. Ketika retak, atau pecah, maka biasanya tak lagi berselera untuk memakainya dan akan berpikir untuk menggantinya dengan yang baru. Tapi ternyata tidak dengan Nabi SAW. Gelas yang pecah itu ditambal oleh beliau. Betapa sederhananya.

  1. Sederhananya cara berpakaian Nabi SAW.

Dalam suatu hadits Bukhari-Muslim, diceritakan tentang seorang Arab Badwi (daerah gurun/desa pinggiran) yang mengajukan beberapa pertanyaan penting dan mendasar kepada Nabi SAW, ketika beliau sedang berkumpul bersama para sahabatnya di masjid. Namun yang menarik, perhatikan bagaimana ketika orang Badwi ini masuk ke masjid. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau mengatakan, “Ketika Nabi SAW sedang bersama para sahabatnya, datanglah seorang lelaki Badwi lalu bertanya, “Siapakah diantara kalian yang merupakan cucu Abdul Muthalib?”

Dalam riwayat lain, “Ketika Nabi SAW sedang bersama para sahabatnya, datanglah seorang lelaki sambil menunggang unta, lalu ia meminggirkan untanya di masjid, kemudian mengikatnya. Ia bertanya, “Siapakah diantara kalian yang bernama Muhammad?” (HR. Bukhari, Muslim).

Jadi, lelaki Badwi ini hendak mencari Nabi SAW, seorang Rasul. Namun dia melihat tidak ada orang penampilannya mencolok atau beda sendiri. Sehingga dia perlu untuk bertanya. Ini menunjukkan bahwa Nabi SAW berbusana dan berpenampilan sebagaimana para sahabat, tidak beda sendiri, tidak mencolok perhatian, walaupun beliau seorang yang paling mulia di antara mereka.

  1. Nabi meminta rezeki sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Nabi SAW meminta rezeki kepada Allah SWT bagi keluarganya, sekedar makanan yang pas memenuhi kebutuhan pokok, bukan harta yang berlimpah ruah.

Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya” (HR. Muslim).

Beliau juga menegaskan bahwa dengan terpenuhinya kebutuhan pokok seseorang di hari ia bangun dari tidurnya, itu sudah kenikmatan yang luar biasa. Beliau bersabda, “Barangsiapa bangun di pagi hari dalam keadaan merasakan aman pada dirinya, sehat badannya, dan ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah seluruhnya dunia dikuasakan kepadanya” (HR. Tirmidzi).

Sebagian kita memiliki persediaan makanan, bahkan tidak hanya untuk hari ini. Bahkan beberapa hari ke depan, atau bahkan sampai berbulan-bulan ke depan. Belum lagi harta dalam bentuk lain yang bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan juga kebutuhan tersier (tambahan). Namun ternyata tidak demikian dengan Nabi SAW, justru rezeki beliau sebatas kebutuhan pokok saja.

  1. Nabi SAW tidak pernah mendapati banyak makanan dalam kesehariannya.

Beliau dan keluarga tidak mendapati makanan yang melimpah dalam kesehariannya. Namun hanya sekedar tidak kelaparan dan terpenuhinya kebutuhan pokok, sebagaimana dalam hadits-hadits yang sebelumnya.

Dari Malik bin Dinar radhiallahu’anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah SAW tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang)” (HR. Tirmidzi).

Biasanya sekali dalam dua atau tiga hari beliau dan keluarga baru merasakan kenyang. Itu pun sekedar makan roti gandum, makanan yang sangat sederhana. Aisyah radhiallahu’anha mengatakan, “Keluarga Muhammad tidak pernah merasakan kenyang, karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai ia bertemu dengan Allah (wafat)” (HR. Bukhari, Muslim).

Dalam riwayat lain, “Keluarga Muhammad SAW tidak pernah merasakan kenyang, karena makan roti gandum dalam dua hari, sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari, Muslim). Sebagian kita setiap hari merasakan kenyang, bahkan tidak hanya sekali. Namun berkali-kali dalam satu hari. Karena melimpahnya makanan yang kita dapati. Namun sangat sederhananya kehidupan Nabi SAW sampai-sampai hanya merasakan kenyang hanya sekali dalam dua hari atau tiga hari.

  1. Terkadang keluarga Nabi SAW tidak mendapati makanan di suatu hari.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Rasulullah bertanya kepadaku pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, apakah engkau memiliki sesuatu (untuk dimakan pagi ini?)’. Aku menjawab: ‘wahai Rasulullah, kita tidak memiliki sesuatupun (untuk dimakan)’. Beliau lalu bersabda: ‘Kalau begitu aku akan puasa.’” (HR. Muslim).

Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu’anhu, beliau berkata kepada para sahabat yang lain, “Bukankah kalian bisa makan dan minum semau kalian? Sungguh aku melihat Nabi kalian tidak memiliki daql (kurma yang sudah kurang bagus) sama sekali. Dan tidak ada makanan yang bisa memenuhi perutnya.” (HR. Muslim).

Ternyata Nabi SAW tidak selalu memiliki makanan setiap harinya, bahkan makanan yang sederhana sekalipun. Tidak sebagaimana kebanyakan kita yang masih bisa mendapati makanan setiap hari. Bahkan hingga mengenyangkan perut kita.

Istri Nabi SAW, Ummul Mukminin Aisyah radhiallallahu’anha juga mengatakan, “Pernah kami melalui suatu bulan yang ketika itu kami tidak menyalakan api sekali pun. Yang kami miliki hanya kurma dan air. Kecuali ada yang memberi kami hadiah berupa potongan daging kecil untuk dimakan.,” (HR. Bukhari, Muslim).

  1. Sederhananya sandal Nabi SAW.

Sandal Nabi SAW bukanlah sandal para raja dan kaisar. Namun sekedar sandal jepit biasa yang terbuat dari kulit. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau mengatakan, “Sandal Nabi SAW memiliki dua tali ikatan.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain: “Suatu hari Anas bin Malik keluar rumah menemui kami, ia memakai sandal kulit yang tidak berbulu dan terdapat dua tali ikatan. Tsabit Al Bunani menuturkan kepadaku, dari Anas bin Malik, beliau berkata: dua sandal tersebut adalah milik Nabi SAW” (HR. Bukhari).

  1. Sederhananya tempat tidur Nabi SAW.

Tempat tidur yang digunakan Nabi SAW sangat sederhana, terbuat dari kulit yang diisi oleh sabut atau dedaunan. Dari Aisyah radhiallahu’anha, “Tempat tidur Rasulullah SAW dari kulit yang diisi dengan sabut” (HR. Bukhari, Muslim).

Dan terkadang beliau juga tidur di atas tikar yang terbuat dari dedaunan, sehingga berbekas di kulit beliau jika tidur di atasnya. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, “Umar bin Khattab datang ketika beliau sedang tidur di atas tikar yang membuat bekas pada kulit beliau di bagian sisi. Sontak Umar pun berkata, “Wahai Nabi Allah! Andaikan engkau menggunakan permadani tentu lebih baik dari tikar ini”. Maka beliau pun bersabda, “Apa urusanku terhadap dunia? Permisalan antara aku dengan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan di siang hari yang panas terik, lalu ia mencari teduhnya di bawah pohon beberapa saat di siang hari, kemudian ia istirahat di sana lalu meninggalkannya” (HR. At Tirmidzi, Al Hakim, Ibnu Majah).

  1. Sederhananya rumah Nabi SAW.

Rumah Nabi SAW sangat sederhana. Sehingga jika istri beliau, Aisyah radhiallahu ta’ala an’ha, tidur di sana, maka sebagian tubuhnya menghalangi Nabi yang sedang shalat. Dari Aisyah radhiyallahu anha, istri Nabi SAW, ia berkata, “Aku tidur di depan Rasulullâh SAW (yang sedang shalat), dan kedua kakiku pada kiblat beliau. Jika beliau hendak bersujud, beliau menyentuhku dengan jarinya, lalu aku menarik kedua kakiku. Jika beliau telah berdiri, aku meluruskan kedua kakiku.” (HR. Bukhari, Muslim).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata, “Suatu malam aku kehilangan Rasulullâh dari tempat tidur, kemudian aku mencarinya, lalu tanganku mengenai kedua telapak kaki beliau sebelah dalam ketika beliau sedang di tempat sujud” (HR. Muslim).

  1. Nabi SAW tidak meninggalkan warisan berupa harta.

Beliau tidak meninggalkan warisan harta bagi keluarganya. Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia mengatakan, “Rasulullah SAW tidak meninggalkan dinar, dirham, kambing atau unta. Dan tidak memberikan wasiat harta kepada siapapun.” (HR. Muslim).

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Namun mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa menuntut ilmu ia telah mengambil warisan para Nabi dengan jumlah banyak.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Fathimah dan Al Abbas ‘alaihimassalam datang kepada Abu Bakar (sepeninggal Nabi). Kemudian keduanya menanyakan mengenai jatah warisan Rasulullah SAW, yaitu sebidang tanah di Fadak dan juga di Khaibar. Maka Abu Bakar berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak mewariskan harta, apa yang aku tinggalkan itu untuk sedekah”. Namun keluarga Muhammad makan dari harta ini (ketika Nabi masih hidup)” (HR. Bukhari, Muslim).

Demikianlah sebagian kecil kehidupan Nabi SAW yang sangat sederhana. Karena akhirat adalah tujuan beliau, bukan dunia. Maka beliau tidak ada keinginan untuk memperbanyak dunia dan bermewah-mewah di dalamnya. Sebagaimana dalam hadits Umar di atas, beliau bersabda, “Apa urusanku terhadap dunia? Permisalan antara aku dengan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan di siang hari yang panas terik, lalu ia mencari teduhnya di bawah pohon beberapa saat di siang hari, kemudian ia istirahat di sana lalu meninggalkannya” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah).