...
Sisihkan, Bukan Sisakan Untuk Berwakaf

Banyak orang menunda untuk berwakaf dengan alasan menunggu harta berlebih. Mereka berprinsip akan berwakaf jika nanti ada "sisa" setelah semua kebutuhan terpenuhi. Padahal, filosofi wakaf yang benar adalah "menyisihkan", bukan "menyisakan". Perbedaan dua kata ini sangat fundamental dalam memahami esensi ibadah wakaf.

Perbedaan Menyisihkan dan Menyisakan

Menyisihkan berarti mengalokasikan sebagian harta secara sengaja dan terencana di awal, sebelum digunakan untuk keperluan lain. Ini adalah bentuk komitmen dan prioritas. Sementara menyisakan berarti memberikan apa yang tersisa setelah semua kebutuhan dan keinginan terpenuhi, dan kenyataannya, sisa ini sering kali tidak pernah ada.

Rasulullah SAW mengajarkan prinsip ini melalui sabdanya: 

Khairu ash-shadaqati ma kana 'an zhahri ghina 

Artinya: "Sebaik-baik sedekah adalah yang diberikan dari kecukupan" (HR. Bukhari). 

Maksudnya, bersedekah atau berwakaf dari harta yang masih kita butuhkan, bukan dari sisa yang sudah tidak terpakai.

Mengapa Harus Menyisihkan?

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 92:

Lan tanaalu al-birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun 

Artinya: "Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." 

Ayat ini menegaskan bahwa wakaf yang bernilai adalah yang kita sisihkan dengan kesadaran penuh, bukan sekadar memberikan apa yang sudah tidak berharga bagi kita. Ketika kita menyisihkan, kita sedang melatih jiwa untuk tidak terlalu cinta dunia. Kita membuktikan bahwa akhirat lebih utama daripada harta yang kita miliki saat ini. Sebaliknya, pola "menyisakan" mencerminkan sikap masih terikat kuat pada harta dan menunda-nunda kebaikan.

Manfaat Menyisihkan untuk Wakaf

Ada beberapa keuntungan ketika kita menyisihkan, bukan menyisakan uang untuk wakaf:

Pertama, wakaf menjadi prioritas hidup, bukan opsi terakhir. Dengan menyisihkan di awal, kita memastikan komitmen berwakaf tidak terganggu oleh pengeluaran lain yang seringkali tidak terencana.

Kedua, pahala mengalir lebih cepat dan konsisten. Wakaf yang disisihkan secara rutin akan terus memberikan manfaat bagi banyak orang, dan pahalanya mengalir tanpa terputus hingga kita wafat.

Ketiga, melatih disiplin finansial dan spiritual. Ketika kita membiasakan menyisihkan untuk wakaf, kita belajar mengelola harta dengan lebih bijak dan tidak boros.

Mulai dari Sekarang dengan Nominal Kecil

Berwakaf tidak harus menunggu kaya. Mulailah dengan nominal kecil namun konsisten. Sisihkan 50 ribu, 100 ribu, atau bahkan 10 ribu rupiah setiap bulan. Yang penting adalah niat dan istiqomah.

Rasulullah SAW bersabda:

Ittaqun naara wa lau bi syiqqi tamrah

Artinya: "Jagalah dirimu dari api neraka walau hanya dengan (bersedekah) sebutir kurma" (HR. Bukhari & Muslim). 

Ini menunjukkan bahwa nilai nominal bukanlah yang utama, tetapi keikhlasan dan konsistensi dalam beramal.

Wujudkan Komitmen Wakaf Anda

Jika Anda ingin memulai kebiasaan menyisihkan untuk wakaf, Lembaga Wakaf Mandiri hadir sebagai mitra terpercaya dalam menyalurkan wakaf Anda. Dengan berbagai program wakaf produktif seperti wakaf pendidikan, kesehatan, sosial dan produktif, setiap rupiah yang Anda sisihkan akan dikelola secara profesional dan memberikan manfaat jangka panjang bagi umat.

Jangan tunda lagi kebaikan. Mulai sisihkan, bukan sisakan uang Anda untuk berwakaf hari ini. Karena kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan habis, tapi pahala wakaf akan terus mengalir hingga akhir zaman.